DPRD Pati Minta SPPG Gembong Dievaluasi Usai Ratusan Siswa Bergejala
PATI – NOTOPROJO.ID
Pemerintah Kabupaten Pati bersama pihak terkait akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong setelah ratusan siswa mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data sementara, sebanyak 259 orang mengalami gejala, seperti mual dan diare. Dari jumlah tersebut, 48 pasien menjalani rawat inap, 138 orang rawat jalan, sedangkan tiga orang masih dalam observasi dokter puskesmas.
Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Pati, Endah Sri Wahyuningati, mengatakan kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali terjadi.
Menurut Endah, pihaknya akan berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait, termasuk membahas kemungkinan pemberian sanksi terhadap SPPG serta kompensasi bagi masyarakat yang terdampak.
“Kalau mengenai sanksi bagi SPPG dan juga kompensasi bagi korban keracunan, termasuk yang tidak dirawat tetapi mengalami kondisi tertentu, ini nanti akan kami bahas. Pastinya kami akan bersikap sesuai dengan aturan,” ujar Endah.
Ia menegaskan, evaluasi diperlukan untuk memastikan pelaksanaan program MBG berjalan sesuai standar dan tidak membahayakan penerima manfaat.
“Ini memang harus menjadi suatu perhatian supaya tidak terjadi lagi. Untungnya tidak ada sampai yang jauh lebih parah dari kondisi yang ada saat ini,” katanya usai memantau di RSUD Soewondo.Kamis (10/09/26)
SPPG Gembong Sementara Dihentikan
Endah juga menyampaikan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh, SPPG yang berkaitan dengan kejadian tersebut untuk sementara tidak beroperasi.
“Sejauh ini sementara tidak. Pastinya karena akan ada evaluasi,” ujarnya.
Ia berharap penghentian sementara tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan pemeriksaan dan evaluasi secara menyeluruh.
Terlebih, sejumlah anak disebut mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Menurut Endah, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar pelaksanaan program MBG tidak justru menimbulkan kekhawatiran di kalangan siswa maupun orang tua.
Pembelajaran Tetap Berjalan
Sementara itu, kegiatan pembelajaran di sekolah terdampak tetap berlangsung. Siswa yang dalam kondisi sehat tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar.
“Anak-anak yang tidak bermasalah pagi ini tetap berangkat ke sekolah. Kalau yang masih kurang fit, tentunya masih izin. Kami harapkan pihak sekolah bisa memaklumi,” jelasnya.
Endah juga merespons adanya sejumlah orang tua yang mulai menyuarakan penolakan terhadap program MBG setelah kejadian tersebut.
“Ini nanti kita tampung. Kejadian ini pasti sudah dipantau dan menjadi catatan. Kami akan mengikuti perkembangan di masyarakat berkaitan dengan program MBG,” katanya.
Pemeriksaan Laboratorium Jadi Penentu
Di sisi lain, Joko Laksono Eksin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pati mengatakan kondisi pasien yang masih menjalani perawatan secara umum cukup baik.
Dinas Kesehatan juga telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium di Semarang. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada para korban.
“Hasil pemeriksaan paling cepat sekitar empat hari. Sampelnya sudah dipacking untuk kemudian dikirim dan diperiksa di laboratorium di Semarang,” ujar Joko.
Ia menambahkan, Kabupaten Pati belum memiliki peralatan yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kuman atau mikroorganisme yang terdapat dalam makanan.
Karena itu, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut.
Baik DPRD maupun Dinas Kesehatan memastikan kondisi para korban akan terus dipantau dan pelaksanaan program MBG di wilayah Pati akan menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Penulis : Heroe













