Peternak Unggas Pati Gelar Aksi, Desak Harga Pakan Turun dan Harga Telur Naik
PATI, NOTOPROJO.ID
Ratusan peternak unggas di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Pati, Senin (10/8/2026) siang. Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan terkait anjloknya harga jual hasil peternakan yang dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi.
Dalam aksi tersebut, massa membawa sedikitnya delapan tuntutan. Di antaranya mendesak pemerintah menurunkan harga pakan, menaikkan harga telur dan ayam, serta mendorong adanya penyerapan hasil produksi peternak untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pantauan di lokasi sekitar pukul 09.40 WIB, massa mulai berdatangan dan berkumpul di depan Kantor Bupati Pati. Sejumlah peternak juga membawa spanduk berisi tuntutan, salah satunya bertuliskan “Turunkan Harga Pakan”, yang dibentangkan di kawasan Alun-alun Simpang Lima Pati.
Ketua Asosiasi Unggas Peternak Kabupaten Pati, Dwi Agus Siswanto, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan peternak terhadap kebijakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang dinilai belum mampu memberikan perlindungan terhadap keberlangsungan usaha peternakan.
“Aksi hari ini merupakan bentuk kekecewaan kita terhadap pemerintah pusat maupun daerah,” ujar Dwi saat ditemui di lokasi aksi.
Menurut Dwi, persoalan utama yang dihadapi peternak saat ini adalah rendahnya harga jual hasil produksi di tingkat peternak. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya biaya pakan dan kebutuhan operasional lainnya.
Ia menyebut harga telur di tingkat peternak saat ini berada di kisaran Rp20.000 per kilogram. Sementara, berdasarkan acuan harga yang disebutnya ditetapkan pemerintah pusat, harga telur seharusnya mencapai sekitar Rp26.500 per kilogram.
“Idealnya sesuai harga acuan pemerintah Rp26.500 untuk telur. Jadi tiap hari rugi Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogramnya,” katanya.
Kondisi serupa, lanjut Dwi, juga terjadi pada komoditas ayam pedaging. Ia menyebut harga ayam di pasaran saat ini masih berada di bawah harga yang dianggap ideal oleh peternak.
Dwi mengatakan harga daging ayam yang menurutnya ideal berada di sekitar Rp22.000 per kilogram, sedangkan harga yang diterima peternak saat ini baru menyentuh sekitar Rp21.000 per kilogram.
Menurut dia, selisih harga tersebut menjadi persoalan serius karena peternak harus tetap menanggung biaya produksi, terutama pakan, yang terus menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar.
Peternak berharap pemerintah tidak hanya mendengarkan aspirasi mereka, tetapi juga mengambil langkah konkret untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat peternak.
Salah satu solusi yang didorong adalah memperluas penyerapan hasil produksi unggas lokal untuk memenuhi kebutuhan program MBG. Dengan begitu, hasil produksi peternak Pati diharapkan dapat terserap secara lebih stabil dan memberikan kepastian pasar.
Aksi tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa persoalan harga komoditas unggas tidak hanya menyangkut keuntungan peternak, tetapi juga keberlangsungan usaha dan rantai pasok pangan di daerah.
Penulis : Heroe














