Kemenag Pati Turun Tangan Sikapi Dugaan Bullying di MTs, Minta Tunggu Hasil Penyelidikan Polisi
PATI – NOTOPROJO.ID
Dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mendapat perhatian serius dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati. Menyusul viralnya video yang beredar di media sosial, Kemenag langsung melakukan koordinasi dan mendatangi pihak madrasah guna memperoleh informasi secara langsung.
Pertemuan antara jajaran Kemenag Pati dengan pihak sekolah berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) siang. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk respons cepat atas informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pati, Ahmad Syaiku, mengatakan bahwa begitu mengetahui adanya informasi yang beredar di media sosial, pihaknya segera menghubungi kepala madrasah untuk meminta penjelasan.
“Begitu ada informasi di media sosial itu langsung kami telepon kepada kepalanya dan kemudian pada hari ini kami ingin mengetahui secara detail yang ada di sini,” ujar Ahmad Syaiku.
Ia mengaku prihatin atas peristiwa yang terjadi di lingkungan madrasah. Namun demikian, Kemenag Pati memilih untuk tidak memberikan kesimpulan ataupun pernyataan lebih jauh karena kasus tersebut saat ini masih dalam penanganan Polresta Pati.
“Kami dari Kemenag sungguh merasa prihatin kejadian itu terjadi di madrasah. Kemudian yang kedua, kami belum bisa memberikan pernyataan apa-apa karena memang kasus ini masih ditangani oleh Polres. Jadi kami khawatir kalau memberikan pernyataan ini justru bertentangan dengan hasil daripada proses hukumnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala MTs, Syafi’i, sebelumnya membantah adanya dugaan tindakan bullying terhadap seorang siswa kelas VII. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan insiden murni yang terjadi saat korban bermain bersama teman-temannya dan bukan akibat tindakan perundungan.
Ia menjelaskan, kejadian berlangsung pada Senin (27/7/2026) seusai salat Zuhur. Saat itu, sejumlah siswa bermain di sekitar area toilet dan tempat wudu. Korban disebut naik ke pagar hingga tangannya terjepit, yang mengakibatkan dua jari tangan kirinya putus.
“Sebetulnya adalah murni dari insiden atau kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan atau pembullyan,” kata Syafi’i.
Ia menambahkan, setelah kejadian korban langsung mendapat pertolongan dan dibawa ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh penanganan medis.
“Habis salat dhuhur anak-anak sebelum masuk ke kelas, terus ada anak-anak main. Terus terjadilah itu. Ada yang main naik pagar tangannya terjepit itu,” terangnya.
Hingga berita ini diterbitkan, proses penyelidikan masih dilakukan oleh Polresta Pati guna mengungkap fakta sebenarnya terkait insiden tersebut. Semua pihak diharapkan menunggu hasil penyelidikan resmi dari aparat penegak hukum agar informasi yang berkembang tetap akurat dan tidak menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat.














