Genjot Modernisasi Pertanian, Pemprov Jateng Hibahkan 1.507 Alsintan Senilai Rp71 Miliar
SEMARANG – NOTOPROJO.ID
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui penguatan mekanisasi. Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, langkah tersebut diharapkan mampu menarik minat generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk terjun ke dunia pertanian.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran hibah sebanyak 1.507 alat dan mesin pertanian (alsintan) modern kepada kelompok tani yang tersebar di 32 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Untuk program tersebut, Pemprov Jateng mengalokasikan anggaran sekitar Rp71 miliar.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, De Fransisco Dasilva Tavares, mengatakan, penggunaan alsintan modern dapat meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus menekan potensi kehilangan hasil pertanian.
Menurut dia, mekanisasi mampu menurunkan tingkat kehilangan hasil pertanian dari sekitar 10 persen menjadi hanya dua persen.
Berdasarkan data Distanak Jateng, jumlah petani muda di Jawa Tengah saat ini mencapai sekitar 625.000 orang atau 14,25 persen dari total 4,2 juta petani.
“Modernisasi dan mekanisasi akan menjadi kunci utama untuk menarik minat para milenial dan Gen Z untuk mau kembali dan berkarya di sektor pertanian. Jadi, ini kita ingin membuktikan bahwa bertani di era modern itu keren, cerdas, dan menjanjikan secara ekonomi,” ungkap De Fransisco dalam kegiatan penyerahan hibah alsintan yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Selasa (3/11/2026).
Selain menyalurkan bantuan peralatan pertanian, Distanak Jateng juga mengoptimalkan peran Balai Mekanisasi dan Modernisasi Pertanian. Lembaga tersebut bertugas melakukan standardisasi, pengujian, pengawasan, rekayasa, serta pengembangan teknologi mekanisasi pertanian.
Fasilitas pendukung tersebut tersebar di lima lokasi, di antaranya Solo, Pati, Petarukan, dan Banyumas.
De Fransisco menambahkan, pemanfaatan teknologi pertanian di kalangan kelompok tani terus mengalami peningkatan. Pemerintah juga memberikan pendampingan kepada kelompok tani yang belum memiliki keterampilan mengoperasikan alsintan, mulai dari penggunaan hingga perawatan peralatan.
“Sejauh ini (mekanisasi) meningkat eksponensial, karena banyak dari kelompok tani yang menguasai penggunaan alat. Ketika belum ada yang menguasai penggunaan alat, maka diberikan sekaligus pendampingan dari operasional hingga pemeliharaan,” imbuhnya.
Program modernisasi pertanian tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Semarang. Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menilai penggunaan alsintan mampu mempercepat pekerjaan petani sekaligus meningkatkan efektivitas dan efisiensi usaha pertanian.
Menurut dia, bantuan peralatan modern memberikan dampak nyata terhadap waktu pengerjaan lahan.
“Kami terima kasih, ini dalam rangka mendukung pertanian di Kabupaten Semarang, agar lebih efektif, efisien, dan petani meningkat penghasilannya. Misal, untuk olahan tanah biasanya empat hari, dengan ini dua hari selesai,” paparnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, mekanisasi pertanian merupakan salah satu strategi untuk memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
Melalui penyaluran ribuan alsintan tersebut, pemerintah provinsi berupaya mempertahankan kontribusi Jawa Tengah sebagai salah satu daerah penyumbang utama produksi pangan nasional, yakni sekitar 16,5 persen.
“Saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggalakkan terkait dengan lumbung pangan nasional. Tahun 2025 kemarin sebanyak 11,5 juta ton gabah kering panen, kita dapatkan. Hari ini sudah ada sebanyak 8,5 juta ton, artinya masih ada empat bulan nanti,” pungkasnya.
Pemprov Jateng berharap mekanisasi pertanian tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga mengubah wajah sektor pertanian menjadi lebih modern, produktif, dan menarik bagi generasi muda. Dengan demikian, keberlanjutan regenerasi petani sekaligus ketahanan pangan daerah dapat terus terjaga.
SEMARANG – NOTOPROJO.ID














