Waduk Gembong Diprediksi Hanya Mampu Suplai Air Pertanian Dua Pekan
PATI, NOTOPROJO.ID
Volume air Waduk Gembong di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus menyusut akibat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air untuk mengairi lahan pertanian padi diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Air Waduk Gembong selama ini dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan irigasi lahan pertanian di puluhan desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Gembong, Margorejo, Pati, Tlogowungu, dan Wedarijaksa.
Operator Waduk Gembong, Susanto, mengatakan, pihaknya belum lama ini mulai menggelontorkan air dengan debit sekitar 1.200 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian di lima kecamatan tersebut.
“Ini untuk lima kecamatan. Kemarin sudah mulai pengeluaran 1.200 liter per detik. Terus ini yang paling banyak permintaan dari Kecamatan Margorejo,” kata Susanto, Jumat (4/9/2026).
Menurut Susanto, saat ini volume air di Waduk Gembong tersisa sekitar 2,4 juta meter kubik. Jumlah tersebut turun drastis dibandingkan kondisi sebelumnya yang mencapai sekitar 9,5 juta meter kubik.
Dengan volume yang tersisa tersebut, air waduk diperkirakan hanya mampu digunakan untuk pengairan selama sekitar dua pekan.
Susanto mengatakan, Waduk Gembong berpotensi mengalami kondisi kering apabila hujan tidak kunjung turun. Selain mengurangi pasokan air irigasi, kondisi tersebut juga berisiko terhadap konstruksi bendungan.
Untuk menjaga kondisi bangunan bendungan, pengelola tetap mempertahankan volume air tertentu sebagai bagian dari proses pembasahan.
“Pembasahan sendiri itu kita biasa menampung 500.000 meter kubik. Setelah itu tidak bisa didistribusi. Pembasahan itu digunakan supaya tubuh bendung sendiri tidak ada retakan atau dari bangunan ini sendiri itu lebih aman. Biar tidak ada retakan sama rembesan-rembesan,” ujarnya.
Susanto menyebut penyusutan volume air Waduk Gembong tahun ini merupakan salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Kondisinya dinilai hampir menyerupai kekeringan yang terjadi pada 2018-2019.
“Tahun-tahun dulu juga pernah lebih parah lagi. Terakhir itu, yang lebih parah tahun 2018-2019,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Waduk Gembong merupakan salah satu sumber utama air irigasi bagi lahan pertanian di sejumlah wilayah Kabupaten Pati. Jika hujan tidak segera turun, ketersediaan air untuk pertanian berpotensi semakin terbatas.
Penulis: Ar NOTOPROJO.ID














