Hujan Mulai Turun, Jateng Bidik Produksi 10,5 Juta Ton Padi pada 2026
SEMARANG – NOTOPROJO.ID
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis mampu mencapai target produksi padi sebesar 10,5 juta ton pada 2026. Optimisme tersebut muncul seiring mulai turunnya hujan di sejumlah wilayah yang diharapkan dapat mendukung aktivitas pertanian hingga akhir tahun.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, curah hujan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan yang sebelumnya membayangi sejumlah daerah.
“Alhamdulillah kemarin sudah mulai hujan. Semoga sampai Desember nanti kita mampu mencapai target,” kata Luthfi, Sabtu (31/10/2026).
Ia menjelaskan, Jawa Tengah merupakan salah satu daerah penyangga pangan nasional. Pada 2025, produksi padi di provinsi dengan jumlah penduduk hampir 38 juta jiwa itu mencapai sekitar 11,5 juta ton.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga September 2026, produksi padi tercatat mencapai 8,5 juta ton. Pemerintah provinsi menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 10,5 juta ton hingga akhir tahun.
Untuk menjaga capaian tersebut, Pemprov Jateng telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian.
Langkah itu meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyiapan infrastruktur sumber air seperti waduk dan embung, serta perbaikan jaringan irigasi tersier dan sekunder.
Pemprov Jateng juga memperkuat kolaborasi dengan TNI, Polri, dan instansi terkait melalui program pompanisasi dan pipanisasi guna memastikan ketersediaan air bagi petani.
Berdasarkan data pemerintah provinsi, terdapat 242.826 hektare sawah tadah hujan dan 530.748 hektare sawah irigasi di Jawa Tengah.
Penanganan terhadap kedua jenis lahan tersebut dilakukan melalui pendekatan berbeda. Sawah tadah hujan didukung dengan irigasi perpompaan, sedangkan sawah irigasi diperkuat melalui jaringan irigasi tersier.
Tak hanya persoalan ketersediaan air, pemerintah juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui program asuransi gagal panen. Program tersebut dialokasikan untuk melindungi 10 ribu hektare lahan pertanian dari risiko puso maupun gagal panen akibat bencana.
“Asuransi gagal panen untuk mem-backup. Jadi jangan sampai nanti kena puso, kena banjir, dan gagal panen. Itu nanti akan membantu masyarakat kita, khususnya para petani, agar tetap mempunyai modal dasar untuk melakukan kegiatan pertanian meskipun mengalami gagal panen,” ujar Luthfi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, pola tanam di setiap daerah memiliki karakteristik berbeda sesuai kondisi geografis dan ketersediaan air.
Di sejumlah wilayah Pantura, misalnya, petani umumnya menjalankan dua kali musim tanam padi yang diselingi komoditas pertanian lainnya. Namun, di daerah dengan dukungan air memadai, pola tanam dapat mencapai tiga kali dalam setahun.
“Semua petani itu sebenarnya tergantung pada air. Kalau ada air, mereka pasti akan menanam padi,” katanya.
Untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan bantuan tepat sasaran, Pemprov Jateng juga mengembangkan program Pilar Jateng.
Program tersebut menjadi sistem pemetaan kondisi infrastruktur pertanian, mulai dari lahan, jaringan irigasi, hingga ketersediaan dan kondisi alat mesin pertanian (alsintan).
Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat memantau kondisi sektor pertanian secara berkala sehingga perencanaan pembangunan maupun pemberian bantuan kepada kelompok tani bisa dilakukan lebih terukur.
“Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani,” ujarnya.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan di Jawa Tengah mulai berlangsung pada pekan pertama November 2026. Meski demikian, distribusi hujan diperkirakan belum merata di seluruh wilayah.
Daerah sekitar Pegunungan Slamet dan Pegunungan Dieng diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan. Wilayah tersebut meliputi bagian utara Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, hingga Wonosobo.
Sebaliknya, sejumlah wilayah Pantura dan Jawa Tengah bagian timur diprediksi baru memasuki musim hujan pada awal Desember 2026.
Meski awal musim hujan berbeda-beda, analisis curah hujan harian BMKG menunjukkan hampir seluruh wilayah Jawa Tengah telah mengalami hujan. Namun, intensitas dan frekuensi hujan masih belum merata.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga, sekaligus menjaga produktivitas pertanian demi mencapai target produksi padi pada akhir 2026.
Reporter: Idjlal
Editor: Agus Suprianto













