Harga Garam di Pati Anjlok Rp700 per Kilogram, Petambak Khawatir Kembali Terpuruk
PATI – NOTOPROJO.ID
Petambak garam di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kembali menghadapi tekanan akibat anjloknya harga garam di tingkat petambak. Saat ini, harga garam hanya berada di kisaran Rp700 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp1.000 per kilogram.
Kondisi tersebut dikeluhkan Agus, salah seorang petambak garam di Desa Lengkong, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Ia mengatakan penurunan harga terjadi dalam kurun waktu sekitar 15 hari terakhir.
“Harga garam sekarang turun. Kemarin sekitar 15 hari masih Rp1.000, sekarang sudah turun menjadi Rp700 per kilogram,” ujar Agus.
Menurut Agus , salah satu faktor yang mendorong turunnya harga adalah meningkatnya produksi garam seiring kondisi cuaca yang mendukung. Ketika produksi melimpah, pasokan garam di pasaran bertambah sehingga harga di tingkat petambak ikut tertekan.
Persoalan lainnya, kata dia, adalah belum adanya koperasi atau lembaga penampungan garam yang dapat membantu petambak menyimpan hasil produksi ketika harga sedang rendah.
“Di samping produksi garam semakin bertambah, kendalanya di wilayah Pati belum ada koperasi yang menangani atau menyimpan garam, sehingga harga bisa lebih stabil,” terangnya.
Berpotensi Kembali Turun
Agus mengkhawatirkan harga garam masih berpotensi kembali turun apabila cuaca panas terus berlangsung dan produksi petambak semakin meningkat.
“Kalau cuaca panas terus dan produksi petani garam semakin bertambah, saya kira besar kemungkinan harga garam bisa turun lagi. Terendah yang pernah terjadi sekitar empat tahun lalu Rp375 per kilogram,” jelasnya.
Harga tersebut dinilai sangat memberatkan petambak, terutama mereka yang menggarap lahan dengan sistem sewa. Dengan harga garam yang rendah, pendapatan dari hasil panen dinilai tidak cukup untuk menutup biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kalau dipikir-pikir, untuk menutup biaya saja tidak bisa, apalagi kalau lahannya sewa. Petani garam ini kebanyakan kelas menengah ke bawah. Untuk kebutuhan sehari-hari, makan dan biaya sekolah anak-anak, saya kira masih minus,” imbuhnya.
Pernah Tembus Rp2.500 per Kilogram
Agus menuturkan, kondisi harga saat ini berbanding terbalik dengan tahun 2025 lalu. Kala itu, harga garam di tingkat petambak sempat mencapai Rp2.500 per kilogram.
Namun, harga tersebut kemudian mengalami penurunan setelah produksi memasuki masa panen raya dan pasokan garam di pasaran meningkat.
Petambak berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat mencari solusi untuk menjaga stabilitas harga garam, termasuk menghadirkan koperasi atau tempat penyimpanan hasil produksi. Dengan adanya penampungan, petambak diharapkan tidak selalu berada pada posisi tertekan ketika produksi melimpah dan harga pasar turun.
Bagi petambak, persoalan harga bukan sekadar angka di pasar. Stabilitas harga sangat menentukan keberlangsungan usaha, pendapatan keluarga, hingga kemampuan mereka membiayai kebutuhan sehari-hari.
Reporter: Ar
Editor: Agus Suprianto













