Lonjakan Leptospirosis di Pati Jadi Perhatian, Deteksi Dini Diminta Diperkuat
PATI – NOTOPROJO.ID
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit leptospirosis yang menunjukkan tren peningkatan cukup tajam. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan umumnya ditularkan melalui urine tikus tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Data Dinkes Kabupaten Pati menunjukkan jumlah kasus leptospirosis terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 tercatat sebanyak 7 kasus, meningkat menjadi 22 kasus pada 2023. Selanjutnya, pada 2025 jumlah penderita mencapai 61 kasus dengan 17 orang meninggal dunia. Sementara itu, sejak Januari hingga Mei 2026, kasus melonjak menjadi 172 dengan 21 korban meninggal.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Pati, Yanti, mengatakan peningkatan kasus umumnya terjadi saat musim penghujan. Menurutnya, kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar penyakit ini adalah petani, nelayan, serta pekerja tambak karena aktivitas mereka sering bersentuhan dengan air maupun tanah yang berpotensi tercemar urine tikus.
“Kasus leptospirosis biasanya meningkat saat musim hujan. Petani, nelayan, dan pekerja tambak menjadi kelompok yang paling rentan karena sering bekerja di lingkungan yang berpotensi terkontaminasi urine tikus,” ujar Yanti, Kamis (25/6/2026).
Yanti menjelaskan, bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka yang kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi. Penularan juga dapat terjadi melalui makanan maupun kaleng minuman yang terkena urine tikus.
Selain gejala umum seperti demam, mual, dan keluhan menyerupai influenza, masyarakat diminta mengenali sejumlah tanda khas leptospirosis, antara lain nyeri atau kaku pada otot betis, mata tampak merah atau menguning, serta berkurangnya produksi urine yang dapat mengindikasikan gangguan fungsi ginjal pada fase berat.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kabupaten Pati terus memperkuat edukasi kepada masyarakat dan meningkatkan deteksi dini melalui fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas. Penanganan yang cepat dinilai mampu menekan risiko komplikasi hingga kematian akibat penyakit tersebut.
Masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot ketika beraktivitas di sawah, tambak, maupun area yang berpotensi menjadi sumber penularan.
Editor : Agus suprianto














