Terdampak Banjir, Persediaan Pangan di Jateng Dipastikan Aman
SURAKARTA – NOTOPROJO.ID
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memastikan persediaan pangan di wilayahnya tetap dalam kondisi aman meskipun sejumlah daerah terdampak bencana banjir.
Menurut Luthfi, ketahanan pangan Jawa Tengah masih terjaga karena produksi pangan daerah ini berada dalam kondisi surplus dan bahkan mampu menopang kebutuhan secara nasional.
“Kondisi pangan kita surplus, sehingga swasembada pangan kita tetap kuat,” ujar Luthfi usai menghadiri acara peringatan hari ulang tahun ke-10 Tribun Solo di Kota Surakarta, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif untuk melindungi petani yang terdampak bencana. Salah satunya melalui skema perlindungan asuransi.
“Apabila ada sawah yang terdampak bencana, akan kami tangani melalui asuransi Jamkrida, sehingga petani tidak menanggung kerugian sendiri,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, neraca pangan di provinsi tersebut masih dalam kondisi relatif aman. Hingga Maret 2026, surplus beras tercatat mencapai 702.409 ton.
Selain beras, sejumlah komoditas lain seperti daging dan telur juga mengalami surplus pada periode Januari hingga Maret 2026. Kondisi ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa hingga awal April 2026, sejumlah indikator produksi menunjukkan tren positif.
Untuk komoditas padi, realisasi produksi mencapai 4.169.353 ton dari target 10.559.679 ton gabah kering giling (GKG), atau sekitar 39,48 persen. Sementara produksi jagung mencapai 984.959 ton dari target 3.700.000 ton, atau 26,62 persen.
Adapun kedelai masih dalam tahap awal produksi, dengan realisasi 762 ton dari target 52.790 ton, atau sekitar 1,44 persen.
Pada sektor hortikultura, produksi bawang merah tercatat 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), sedangkan cabai mencapai 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen).
Di sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).
Frans sapaan Defransisco menekankan bahwa aspek distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pangan.
“Yang perlu menjadi perhatian adalah distribusi agar surplus ini dapat merata serta menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Untuk mendukung target produksi tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan berbagai program strategis. Di antaranya bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan membangun 75 paket irigasi perpipaan.
Modernisasi pertanian juga diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, seperti 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, 10 unit combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan hand tractor.
Pada sektor perlindungan, program asuransi usaha tani padi mencakup 10.449 hektare lahan, serta asuransi tembakau seluas 10.000 hektare.
Selain itu, pemerintah juga memberikan subsidi suku bunga untuk 800 paket pembiayaan petani.
Menurut Frans, kebijakan yang diterapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian melalui penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.
Editor: Heroe














