Sekolah Rakyat Pati Utamakan Pembinaan, Siswa yang Bermasalah Tak Langsung Diberi Sanksi Berat
PATI – NOTOPROJO.ID
Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 12 Pati mengedepankan pendekatan pembinaan dalam menangani siswa yang menghadapi persoalan selama mengikuti pendidikan dan kehidupan di asrama.
Kepala SRMP 12 Pati, Wulan Fitrianti, mengatakan setiap siswa memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda sehingga membutuhkan pola pendampingan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Menurut Wulan, ketika terjadi persoalan, pihak sekolah tidak serta-merta memberikan sanksi yang bersifat menghukum. Pendekatan personal dan pembinaan menjadi langkah utama agar siswa memahami kesalahan sekaligus memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dalam proses tersebut, komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua juga menjadi bagian penting. Bahkan, kata Wulan, terdapat momen emosional ketika siswa maupun orang tua menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Anak-anak kemudian diberikan pendampingan agar memahami kesalahannya dan berani bertanggung jawab. Salah satu bentuknya adalah meminta maaf kepada orang tua ketika melakukan kesalahan.
“Anak-anak akhirnya memahami kesalahannya dan kemudian meminta maaf kepada orang tua,” ujar Wulan saat ditemui di ruangnya .Senin (05/10/26)
Sanksi Bersifat Pembinaan
Wulan menjelaskan, penerapan disiplin di SRMP 12 Pati lebih diarahkan pada pembinaan. Sekolah telah menyiapkan mekanisme penanganan bagi siswa yang melakukan pelanggaran.
Siswa yang membutuhkan pembinaan dapat ditempatkan di ruang atau gedung tertentu yang memang disediakan untuk proses tersebut. Namun, penanganannya tetap dilakukan dengan pendampingan dan tidak semata-mata berupa hukuman.
Selain itu, sekolah juga telah menyusun aturan yang disampaikan kepada orang tua. Kesepakatan tersebut menjadi pedoman bersama dalam menjalankan pendidikan, pengawasan, dan pengasuhan siswa.
Menurut Wulan, pola tersebut penting karena siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang yang beragam. Ada anak yang sebelumnya telah mendapatkan pendidikan formal, sementara sebagian lainnya memiliki pengalaman sosial yang berbeda.
Karena itu, pola pengawasan, pengasuhan, dan pendidikan harus terus diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
“Permasalahan itu pasti ada. Tetapi bagaimana kita memperbaiki pola pengawasan, pola pengasuhan, dan pola pendidikan,” kata Wulan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membentuk siswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai karakter, rasa tanggung jawab, kedisiplinan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara sehat.
Bagi SRMP 12 Pati, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat menimba ilmu. Sistem pendidikan berasrama juga menjadi ruang untuk membangun karakter sekaligus memberikan pendampingan kepada anak selama 24 jam.
Dengan pola tersebut, sekolah berupaya memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mengejar cita-cita, tanpa mengabaikan latar belakang maupun persoalan yang mereka hadapi.
Penulis : Heroe














