Sekolah Rakyat Pati Dampingi 321 Siswa Selama 24 Jam, Wali Asuh Jadi Ujung Tombak
PATI – NOTOPROJO.ID
Pelaksanaan Sekolah Rakyat di Kabupaten Pati memasuki tahap awal dengan berbagai tantangan. Sebanyak 321 siswa, mulai jenjang SD hingga SMA, kini mengikuti pendidikan sekaligus pembinaan dalam sistem sekolah berasrama.
Sekolah Rakyat tersebut sebelumnya merupakan program rintisan. Pada periode 2024–2025, jumlah peserta didik dalam tahap rintisan tercatat sekitar 100 siswa. Program kemudian berlanjut dengan pelaksanaan di lokasi saat ini dan mulai berjalan pada Oktober.
Dengan kondisi sekolah yang masih tergolong baru, tidak hanya fasilitas yang harus dipersiapkan, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang secara langsung menangani ratusan peserta didik.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha (TU) Sentra Margo Laras Pati, Raharjo, mengatakan penguatan SDM menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat, mengingat jumlah siswa yang harus mendapatkan pendampingan cukup banyak.
“SDM juga baru, langsung menangani 321 siswa dengan berbagai karakter yang berbeda. Teman-teman sudah luar biasa mendampingi anak-anak selama 24 jam,” ujar Raharjo saat ditemui di sekolah rakyat Senin (05/10/26)
Menurut dia, sistem pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya mengandalkan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Karena para siswa tinggal di asrama, proses pendampingan dilakukan sepanjang waktu.
Untuk memastikan kebutuhan dan perkembangan anak tetap terpantau, terdapat wali asuh yang bertugas mendampingi siswa. Selain itu, terdapat wali asrama yang bertanggung jawab terhadap peserta didik selama berada di lingkungan asrama.
“Wali asuh itu yang mendampingi mereka bersama anak-anak. Kemudian ada wali asrama yang berada di masing-masing asrama,” jelas Raharjo.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat. Para siswa tidak hanya membutuhkan pembelajaran akademik, tetapi juga pendampingan dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter, kedisiplinan, serta pengembangan cita-cita.
Raharjo menambahkan, keberagaman latar belakang siswa juga membutuhkan pola pengasuhan dan pendekatan yang tepat. Karena itu, pendamping dituntut mampu memahami karakter masing-masing anak serta membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan kehidupan berasrama.
Selain pendampingan kepada siswa, edukasi parenting juga terus dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan antara sekolah dan orang tua.
Hal tersebut dinilai penting karena pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua juga perlu memahami pola pengasuhan dan perkembangan anak selama mengikuti program Sekolah Rakyat.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) Pati, Wulan Fitrianti, menekankan pentingnya pola pengawasan, pengasuhan, dan pendidikan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa.
Menurut Wulan, siswa yang mengikuti Sekolah Rakyat memiliki latar belakang yang beragam sehingga ketika muncul persoalan, pendekatan yang dilakukan lebih mengutamakan pembinaan.
“Permasalahan itu pasti ada. Tetapi bagaimana kita memperbaiki pola pengawasan, pola pengasuhan, dan pola pendidikan,” kata Wulan.
Dengan pola pendidikan berasrama, Sekolah Rakyat di Pati dituntut mampu memberikan lingkungan pendidikan yang aman, terarah, sekaligus mendukung perkembangan siswa selama 24 jam.
Program tersebut saat ini masih berada dalam tahap pengembangan. Pemerintah dan pengelola sekolah harus memastikan kesiapan tenaga pendidik, pendamping, fasilitas, hingga sistem pengasuhan agar ratusan siswa dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Keberadaan Sekolah Rakyat di Pati diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun karakter dan mengejar cita-cita tanpa terhambat kondisi sosial maupun ekonomi keluarga.
Penulis : Heroe














