Kemarau Berkepanjangan Hambat Musim Tanam Padi di Pati, 1.012 Hektare Terdampak
PATI – NOTOPROJO.ID
Petani di sejumlah wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, harus menunda aktivitas penanaman padi pada musim tanam pertama (MT 1) 2026/2027. Mundurnya jadwal tanam tersebut dipicu kemarau berkepanjangan yang menyebabkan pasokan air untuk persawahan belum mencukupi.
Kondisi ini terutama dirasakan petani di wilayah Pati bagian selatan yang memiliki areal persawahan cukup luas. Lahan yang belum mendapatkan pasokan air memadai membuat proses pengolahan tanah dan penanaman belum dapat dilakukan sesuai jadwal.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati, Ratri Wijayanto, mengungkapkan, pelaksanaan MT 1 yang semula dijadwalkan mulai 1 Oktober 2026 kemungkinan mengalami keterlambatan akibat faktor cuaca.
Menurut dia, awal musim tanam sangat bergantung pada kondisi ketersediaan air, terutama di kawasan pertanian yang belum didukung jaringan irigasi memadai.
“Benar. MT 1 yang biasanya mulai tanggal 1 Oktober kemungkinan mundur karena cuaca yang belum mendukung,” kata Ratri melalui pesan singkat WhatsApp Jumat (06/11/26)
Ratri menyebut wilayah Pati selatan menjadi kawasan yang paling berpotensi mengalami pergeseran jadwal tanam karena memiliki cakupan lahan pertanian relatif besar.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Dispertan Pati, Sugiharto. Ia menyebut keterlambatan tanam terjadi di sejumlah kecamatan, antara lain Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, dan Jaken.
Selain itu, pergeseran jadwal juga diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Tlogowungu dan Tayu. Secara keseluruhan, luas lahan yang terdampak perubahan jadwal musim tanam diperkirakan mencapai 1.012 hektare.
“Kalau kami simpulkan, selisih MT 1 ini sekitar 1.012 hektare. Lokasinya tersebar di Kayen, Tambakromo, Winong, Pucakwangi, Jaken, serta sebagian Tlogowungu dan Tayu,” jelas Sugiharto.
Meski terdapat penundaan di sejumlah kawasan, aktivitas pertanian di Kabupaten Pati tetap berjalan. Dispertan mencatat, hingga awal Oktober 2026, penanaman padi sudah terealisasi pada lahan seluas 991 hektare. Kecamatan Sukolilo menjadi salah satu wilayah yang telah memulai kegiatan tanam.
Sugiharto memperkirakan realisasi penanaman akan terus bertambah dalam dua bulan berikutnya, seiring meningkatnya intensitas hujan dan membaiknya ketersediaan air di area persawahan.
“Beberapa wilayah sudah mulai tanam, termasuk Sukolilo. Pada Oktober ini tercatat 991 hektare sudah ditanami. Namun, belum seluruhnya. Kami memperkirakan pada November dan Desember akan ada penambahan areal tanam,” katanya.
Ia menambahkan, mayoritas wilayah yang mengalami keterlambatan merupakan kawasan pertanian tadah hujan. Dengan demikian, petani tidak bisa memulai penanaman sebelum hujan turun secara merata dan mencukupi kebutuhan air untuk persiapan lahan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani di Kecamatan Tambakromo, Winong, Pucakwangi, dan Jaken yang selama ini mengandalkan curah hujan sebagai sumber utama pengairan sawah.
“Rata-rata sebagian besar wilayah tadah hujan. Kecamatan seperti Tambakromo, Winong, Pucakwangi, dan Jaken mengandalkan tadah hujan, sementara saat ini hujan belum merata,” pungkasnya.
Editor : Putra Akbar














