Kekeringan Meluas, 50.915 Warga Pati Terdampak Krisis Air Bersih
PATI – NOTOPROJO.ID
Krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, sebanyak 80 desa yang tersebar di 12 kecamatan terdampak kekeringan. Kondisi tersebut memengaruhi 15.369 kepala keluarga (KK) atau 50.915 jiwa.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati bersama sejumlah pihak terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih warga melalui penyaluran bantuan air ke wilayah terdampak. Berdasarkan data infografis BPBD, bantuan yang telah disalurkan mencapai 731 tangki, sedangkan Palang Merah Indonesia (PMI) mendistribusikan 407 tangki air bersih.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan, pemerintah daerah terus mengupayakan bantuan air bersih bagi warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kekeringan sekarang hampir 80 desa. Kami juga terus upayakan untuk bantuan air bersih,” kata Chandra.Jumat (23/10/26)
Menurut dia, Pemkab Pati telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung penanganan krisis air bersih di wilayah terdampak.
Namun, pemerintah daerah tidak ingin penanganan kekeringan hanya bergantung pada pengiriman bantuan air bersih setiap musim kemarau. Pemkab Pati mulai menyiapkan langkah jangka panjang agar masyarakat memiliki sumber air yang lebih berkelanjutan.
Salah satu upaya yang direncanakan adalah pembangunan sumur resapan dan sumur dalam di sejumlah wilayah yang rawan kekeringan.
“Intinya, kami tidak ingin kekeringan tahun depan juga kami tangani dengan pengiriman air bersih lagi. Kami ingin membuat sumur, baik sumur resapan maupun sumur dalam, agar bisa menangani kekeringan di Kabupaten Pati,” ujar Chandra.
Selain menyiapkan pembangunan sumur, Pemkab Pati juga berkoordinasi dengan Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memetakan wilayah yang memungkinkan dijangkau jaringan distribusi air perpipaan.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan air bersih, terutama di desa-desa yang selama ini kerap mengalami kesulitan air saat musim kemarau.
Terkait jumlah dan lokasi pembangunan sumur dalam, Chandra mengatakan, pemerintah daerah masih melakukan kajian teknis. Pemkab Pati melibatkan tenaga ahli dari sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan pemeriksaan geolistrik guna mengetahui potensi sumber air tanah.
“Kalau berapa titiknya, baru pendamping dari tenaga ahli dari universitas-universitas untuk mengecek geolistriknya,” katanya.
Kajian tersebut menjadi salah satu tahapan untuk menentukan lokasi yang tepat sebelum pembangunan sumur dilakukan. Pemerintah daerah berharap langkah jangka panjang ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap distribusi bantuan air bersih ketika kekeringan kembali melanda.
Penulis: Heroe














