Kekeringan Meluas, 29 Desa di Pati Kekurangan Air Bersih
PATI – NOTOPROJO.ID –
Dampak musim kemarau di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kian meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati mencatat sebanyak 29 desa di sembilan kecamatan mengalami kekurangan pasokan air bersih.
Kepala Bidang Kegawatdaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Pati Suntoro mengatakan, puluhan desa tersebut tersebar di Kecamatan Pati, Pucakwangi, Winong, Tambakromo, Sukolilo, Jaken, Jakenan, Gabus, dan Kayen.
“Kita sudah melakukan pengiriman air bersih ke 29 desa dari sembilan kecamatan di wilayah timur dan selatan,” kata Suntoro, Sabtu (13/9/2026).
Menurut dia, hingga saat ini BPBD Kabupaten Pati telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 98 tangki dengan total volume mencapai 465.000 liter.
BPBD, kata dia, masih membuka permintaan bantuan air bersih bagi desa-desa yang mengalami kekurangan pasokan. Namun, pemerintah desa yang membutuhkan bantuan diminta terlebih dahulu mengajukan surat permohonan kepada BPBD Kabupaten Pati.
“Sebanyak 98 tangki dengan total 465 ribu liter air sudah kita distribusikan. Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan air, kami persilakan untuk berkirim surat terlebih dahulu,” ujarnya.
Jakenan Paling Banyak Meminta Bantuan
Suntoro menyebut Kecamatan Jakenan menjadi salah satu wilayah yang paling sering meminta bantuan air bersih. Sejumlah desa di wilayah tersebut bahkan hampir setiap hari membutuhkan pasokan air dari BPBD maupun Palang Merah Indonesia (PMI).
Beberapa desa yang tercatat sering mengajukan permintaan bantuan air bersih antara lain Plosojenar, Karangrejo Lor, Kalimulyo, Tlogorejo, Tambahmulyo, dan Tondokerto.
“Kalau saat ini yang paling sering meminta bantuan berada di Kecamatan Jakenan, di antaranya Desa Plosojenar, Karangrejo Lor, Kalimulyo, Tlogorejo, Tambahmulyo, dan Tondokerto,” katanya.
Berpotensi Terus Meluas
BPBD Kabupaten Pati memperkirakan jumlah desa yang terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026.
Suntoro mengatakan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi diprakirakan masih mengalami musim kemarau hingga November.
“Untuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi itu diperkirakan sampai bulan November,” ujarnya.
Penulis : Heroe














