Dugaan Pengeroyokan 14 Siswa di Pati, Korban Mengaku Diminta Tutupi Kejadian
PATI – NOTOPROJO.ID
Orang tua siswa berinisial D, korban dugaan pengeroyokan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengungkapkan bahwa anaknya diduga diminta menutupi peristiwa yang dialaminya. Korban disebut diminta mengaku terjatuh saat menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit.
Orang tua korban, Dewi, mengatakan, anaknya mengalami dugaan pengeroyokan yang melibatkan belasan siswa pada Selasa (29/9/2026). Akibat kejadian tersebut, D harus mendapatkan perawatan medis di RSUD RAA Soewondo Pati.
Dewi mengaku mendapat informasi bahwa sebelum anaknya dibawa ke rumah sakit, terdapat guru yang meminta D menyampaikan keterangan bahwa dirinya terjatuh, bukan menjadi korban pengeroyokan.
Menurut Dewi, alasan yang disampaikan kepada anaknya berkaitan dengan penggunaan layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk membiayai pengobatan.
“Waktu anak saya mau dibawa ke Soewondo, katanya ada guru yang bilang nanti kalau ditanya pihak rumah sakit disuruh bilang jatuh. Jangan bilang kalau dikeroyok, nanti BPJS-nya tidak bisa dipakai,” ujar Dewi.
Dewi menuturkan, dugaan pengeroyokan tersebut terjadi setelah waktu salat Magrib dan Isya. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari wali asuh, peristiwa itu diduga melibatkan 14 siswa.
Akibat kejadian tersebut, D mengalami sejumlah luka pada tubuhnya. Dewi menyebut anaknya mengalami lebam, kehilangan satu gigi, serta satu gigi lainnya patah.
Ia menjelaskan, dugaan pengeroyokan itu diduga bermula dari tuduhan bahwa D mengambil sambungan muka. Namun, menurut Dewi, anaknya mengaku tidak mengambil barang yang dimaksud.
Korban Mengaku Diminta Berbohong
Keterangan serupa disampaikan D, siswa kelas X di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pati. Ia mengaku diminta memberikan keterangan bahwa dirinya terjatuh dari tangga ketika hendak dibawa ke RSUD RAA Soewondo Pati.
D menyebut permintaan tersebut disampaikan oleh salah satu guru di sekolahnya. Ia mengaku mendapat kesan bahwa dirinya tidak akan memperoleh perawatan apabila tidak mengikuti arahan tersebut.
“Bilang aja jatuh dari tangga. Nanti kalau dokternya bilang, nanti tidak dirawat,” ujar D, menirukan perkataan yang menurut pengakuannya disampaikan kepadanya.
Dugaan pengeroyokan terhadap siswa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan perlindungan terhadap peserta didik di lingkungan sekolah, termasuk penanganan ketika siswa mengalami kekerasan.
Meski demikian, keterangan orang tua dan korban tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak sekolah serta pihak terkait lainnya untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut, termasuk dugaan keterlibatan siswa lain dan kebenaran informasi mengenai penggunaan BPJS Kesehatan.
Penulis : Heroe














